Thursday, February 9, 2017

5 Pertanyaan sederhana yang kita tak tahu jawabnya, tapi sains tahu!


Hidup ini penuh misteri. Jangankan misteri datangnya kiamat, atau bagaimana Bumi terbentuk, berbagai pertanyaan sederhana tentang apa yang terjadi di kehidupan sehari-hari saja, seringkali kita tak bisa jawab. Namun ilmu pengetahuan ada untuk itu, dan tentu sains bisa menjawabnya.
Berbagai pertanyaan sederhana seperti mengapa kita sering tersesat, atau mengapa seseorang bisa lebih rupawan ketika di foto ketimbang ketemu aslinya, ternyata membuat kita kebingungan.

Berikut adalah beberapa misteri sederhana yang jawabannya dengan mudah dapat dipecahkan oleh sains.

Mengapa seseorang sering 'kesasar'
kesasar' ternyata cukup sulit untuk dihindari, meski kita sudah mengikuti arahan dari teman yang rumahnya akan kita tuju, tetap saja nama-nama jalan yang hampir sama selalu memusingkan kita.
Ternyata ada beberapa faktor dalam otak kita yang membuat 'kesasar' bukan hal yang tidak normal.
Kemampuan otak dalam hal navigasi berada pada satu sisi yang sama dengan bagian otak yang bertanggung jawab untuk menyimpan memori. Hippocampus dan entorhinal contex adalah komponen yang bertanggung jawab akan hal tersebut. Namun berbeda dengan ketika kita mengingat memori, dalam mengingat arah jalan, sel yang menyimpan memori arah akan bisa lebih teraktivasi ketika kita berada di jalan tersebut. Sehingga setiap kita melewati sebuah jalan, dalam beberapa kali saja akan ada 'peta' dalam otak kita.
Otak kita, tepatnya bagian hippocampus, akan memuat sel yang dapat memberi impuls secara langsung ketika kita memasuki daerah yang familiar. Dengan sistematika ini, para ilmuwan menyamakan kinerja otak kita dengan sistem GPS.
Nah, terjadinya tersesat ini ternyata disebabkan oleh sinyal lemah di entorhinal cortex dalam otak seseorang, di mana hal ini akan menyebabkan seseorang tersebut mempunyai kesulitan yang lebih dalam hal navigasi di lingkungan baru.

Hal tersebut bukan hal yang tidak normal, karena setiap orang terlahir dengan kemampuan berbeda terhadap hal tersebut. Ini makin terbukti dengan bagaimana pasien Alzheimer mempunyai gejala awal mudah tersesat, dikarenakan entorhinal cortex dan hippocampus adalah bagian dari otak yang fungsinya lebih dulu merosot ketika terserang penyakit tersebut.


Mengapa seseorang bisa lebih rupawan di foto ketimbang aslinya
Fenomena ini sangat luas kita temui di sosial media, di mana seringkali hal ini membuat kita 'curiga' jika kita melihat seseorang yang tak kita kenal, memiliki foto yang rupawan. Mengapa hal ini terjadi?
Hal ini terdiri dari beberapa faktor, dan yang paling mendasari adalah bagaimana struktur wajah kita berbentuk. Jika Anda mengamati secara detil ketika bercermin, Anda akan mendapati wajah Anda tak simetris, dan ini ternyata cukup normal. Wajah yang ternyata miring, dagu yang bengkok, gigi yang tak sejajar garis wajah, dan banyak yang lainnya.
Hal ini tiba-tiba menjadi penting ketika kita mengenal budaya foto dan selfie. Hal ini bisa dijelaskan oleh sebuah efek bernama 'mere-exposure' yang dipaparkan psikolog bernama Robert Zajonc para 1968 silam. Teori ini menjelaskan bahwa seseorang akan bereaksi baik kepada seseorang yang dilihat lebih sering. Karena kita sering bercermin, kita tahu sudut mana dari wajah kita yang terlihat menarik, dan kita menyukai wajah kita dengan sudut tersebut. hal ini berimbas kepada kebiasaan foto dan selfie, yang mungkin tak disadari oleh seseorang.

Namun hal ini berkebalikan dari apa yang orang lain lihat. Seringkali, 'sudut' yang dilihat oleh orang lain ke wajah kita, tidak sesuai dengan sudut yang ditampilkan di foto. Sehingga, tak heran kita tak pernah terlihat semenawan di foto.

Mengapa sebelum hujan kita merasa 'gerah'?
Tentu kita sering mengeluh, mengapa di musim hujan selalu suhu jadi panas. Atau suhu yang panas ini jadi indikator mudah untuk memprediksi datangnya hujan. Namun mengapa hal ini terjadi?
Bila kita telusuri prosesnya, mendung atau awan itu sejatinya adalah kumpulan dari uap air hasil pemanasan sinar matahari dari laut, sungai, danau, dan tempat berkumpulnya air lain. Mirip seperti kepulan asap yang keluar saat kita membuka tutup panci yang airnya sudah mendidih.
Singkatnya, udara panas membawa lebih banyak uap air ketimbang udara yang dingin. Nah, saat udara panas atau mendung itu tadi semakin naik ke atas, akhirnya bertemulah dia dengan udara dingin.
Saat bersatu dengan udara dingin itu, mendung akan melepaskan panasnya. Dan panas itu yang kita rasakan sebelum hujan. Saat semua panas itu terlepas, pasti kita merasa udara mulai dingin, dan saat itu lah hujan akan turun. Hujan sendiri pada dasarnya adalah uap air yang mengembun.

Selain pelepasan panas dari mendung, gerah sebelum hujan juga disebabkan oleh tingkat kelembapan yang tinggi. Sebelum hujan uap air akan memenuhi udara di sekitar kita, namun tubuh kita yang sudah merasa panas karena mendung dan berkeringat, tak bisa menguapkan keringat. Akibatnya kita akan merasa panas terus-menerus.

Mengapa sebelum hujan kita merasa 'gerah'?
Tentu kita sering mengeluh, mengapa di musim hujan selalu suhu jadi panas. Atau suhu yang panas ini jadi indikator mudah untuk memprediksi datangnya hujan. Namun mengapa hal ini terjadi?
Bila kita telusuri prosesnya, mendung atau awan itu sejatinya adalah kumpulan dari uap air hasil pemanasan sinar matahari dari laut, sungai, danau, dan tempat berkumpulnya air lain. Mirip seperti kepulan asap yang keluar saat kita membuka tutup panci yang airnya sudah mendidih.
Singkatnya, udara panas membawa lebih banyak uap air ketimbang udara yang dingin. Nah, saat udara panas atau mendung itu tadi semakin naik ke atas, akhirnya bertemulah dia dengan udara dingin.
Saat bersatu dengan udara dingin itu, mendung akan melepaskan panasnya. Dan panas itu yang kita rasakan sebelum hujan. Saat semua panas itu terlepas, pasti kita merasa udara mulai dingin, dan saat itu lah hujan akan turun. Hujan sendiri pada dasarnya adalah uap air yang mengembun.

Selain pelepasan panas dari mendung, gerah sebelum hujan juga disebabkan oleh tingkat kelembapan yang tinggi. Sebelum hujan uap air akan memenuhi udara di sekitar kita, namun tubuh kita yang sudah merasa panas karena mendung dan berkeringat, tak bisa menguapkan keringat. Akibatnya kita akan merasa panas terus-menerus.

Mengapa aksen seseorang susah hilang?
Seringkali kita bertemu dengan seseorang dengan aksen daerah yang sangat tebal. Meski seseorang sudah bertahun-tahun merantau, aksen dari daerah asal tetap sulit untuk dihilangkan.
Menghilangkan aksen memang hal yang sulit, bahkan hampir mustahil. Meski otak kita sangat mudah dalam mengenali dan belajar aksen tertentu, hal tersebut sangat sulit ditransfer ke pembicaraan kita. Mengapa? Menurut para ilmuwan, hal tersebut sudah muncul sejak kita masih bayi, dan belum mampu bicara sepatah kata pun.
Dilansir dari Wired, para ilmuwan dari University of Washington mencoba melibatkan bayi-bayi dari berbagai suku. Mereka diperdengarkan suara-suara yang kental dengan nuansa Jepang dan Inggris. Pada bayi berusia 6 bulan, mereka merespon suara-suara tersebut dengan setara. Namun menginjak 10 bulan, bayi mulai tidak mengenal suara yang tidak ada di bahasa ibunya. Seperti bayi Jepang yang tidak menghiraukan huruf "r" dan "l" yang tidak umum di bahasa Jepang, namun umum di bahasa Inggris. Kesulitan untuk mengenali bahasa yang bukan bahasa Ibu memang cepat, namun untuk mempraktikkannya, dari lahir pun sulit.
Studi lain dari grup yang berbeda, menyatakan hal yang sebaliknya. Di mana kemampuan untuk belajar bahasa tak akan tiba-tiba menghilang, justru kemampuan ini akan menajam ketika memasuki masa puber. Setelah meneliti berbagai subjek, sang ilmuwan mendapati bahwa kemampuan seseorang dalam mempelajari bahasa kedua, berhubungan secara langsung dengan usia ketika mempelajarinya.
Kita memulai belajar bahasa dengan melihat sekitar, dan meniru orang tua, dan otak kita seakan-akan membentuk 'perpustakaan' yang membuat kita tetap fasih berbahasa. Namun ketika kita mendengar bahasa atau dialek yang baru, otak kita menempuh proses yang sama dalam belajar, namun tetap merujuk pada 'perpustakaan' bahasa asli yang kita pelajari.
Oleh karena itu, otak kita tidak menggunakan dialek atau bahasa yang baru, hanya mengambil perkiraan kasar suara yang sudah kita mengerti di otak kita. Itulah mengapa meski seorang bule sangat fasih berbahasa Indonesia, dia tetap menggunakan aksen kebule-bulean mereka.

Hal ini adalah kinerja alamiah otak kita. Jika tidak dilatih untuk membentuk 'perpustakaan' baru di otak, seseorang bisa tinggal puluhan tahun di negara yang berbahasa asing, tanpa kehilangan aksen sedikit pun.

No comments:

Post a Comment